Terungkap Dalam Persidangan, Terdakwa Dan Saksi Takut Nama PLTU Cemar

image

 

REMBANG,BORGOL.COM _ Pengadilan Negeri rembang kembali menggelar Sidang lanjutan kasus kekerasan terhadap wartawan hari Selasa (20 Juni 2017) Sidang yang dimulai pukul 11.30 WIB siang itu menghadirkan 3 orang saksi, masing – masing Yudi Bhagaskara pimpinan PLTU Sluke, Partini Manajer Administrasi PLTU Sluke dan Sri Mulyadi, Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan (PWI) Jawa Tengah selaku saksi ahli.

 Dalam sidang Ketua Majelis Hakim menanyakan kepada saksi apakah pernah meminta permohonan maaf, Yudi Bagaskara mengakui sudah berusaha melakukan lobi – lobi, dengan tujuan agar masalah kekerasan wartawan saat meliput korban kecelakaan kerja PLTU Sluke di rumah sakit dr. R Soetrasno Rembang, dapat diselesaikan secara kekeluargaan Dengan menemui pengurus PWI kabupaten Rembang hingga PWI Jawa Tengah bahkan ke PWI Pusat di Jakarta.

Termasuk meminta bantuan Bupati Rembang, Abdul Hafidz untuk memediasi dengan wartawan, namun tak upaya itu tak membuahkan hasil. PWI kabupaten Rembang tetap bersikukuh melanjutkan kejadian itu ke jalur hukum.

 Hal senada dibeberkan Partini, saksi lainnya yang saat peristiwa berlangsung menjabat sebagai Manajer Administrasi PLTU Sluke. Ia membenarkan ketika ada kecelakaan kerja, mempengaruhi nilai kinerja sebuah PLTU.

 Partini kemudian ditanya tentang kronologis kekerasan terhadap wartawan. Ia lebih banyak menjawab tidak tahu, lantaran lebih fokus mengurus biaya dan rujukan korban ke rumah sakit lain.

Jaksa merasa belum puas, lantaran saksi wartawan, Djamal A. Garhan sempat melihat Partini juga turut menghalangi wartawan yang akan masuk ke dalam ruangan korban dirawat. Wanita tersebut membantahnya.

Sementara itu Terdakwa Suryono kepada saksi ahli mengajukan pertanyaan. 4 pertanyaan dibacakan sekaligus, sehingga ditegur Ketua Majelis Hakim, karena sebaiknya satu per satu. Pria berkacamata warga desa Grawan kecamatan Sumber ini menanyakan tentang kewajiban mengenakan kartu identitas hingga etika wartawan meliput.

Suryono menuturkan apa tidak boleh khawatir manakala ada orang masuk ke ruang perawatan, mengambil gambar korban kecelakaan kerja, ternyata merupakan pesaing dan ingin menyebarkan foto korban untuk menjatuhkan citra PLTU Sluke.

 Saksi ahli, Sri Mulyadi menegaskan tugas wartawan mencari berita sesuai fakta. Kalau kekhawatiran persaingan antar perusahaan, bukan urusan wartawan. Menyangkut kartu identitas, pria asal Semarang ini berpendapat harus melihat situasi dan kondisi di lapangan. Ketika peristiwa mendadak, wartawan bisa saja tidak mengenakan kartu identitas atau ID Card. Apalagi jika pemakaian ID Card ternyata membahayakan keselamatan wartawan saat meliput. Namun pada waktu konfirmasi dengan narasumber, wartawan wajib mengenalkan diri, termasuk menunjukkan ID Card.

Usai sidang Sri Mulyadi menilai pertanyaan terdakwa mengenai kemungkinan persaingan usaha justru menjerumuskan terdakwa sendiri. Tergambar bahwa terdakwa merasa khawatir jangan sampai ada orang lain mengetahui peristiwa kecelakaan kerja, sehingga harus menghalangi wartawan meliput. Poin kunci itu akan dinilai oleh Majelis Hakim"terangnya

 Sementara itu beberapa wartawan yang mengkonfirmasi Partini Saat ditanya bukankah Partini juga menghalangi wartawan selama berada di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit, kenapa mesti berbohong, padahal sudah disumpah di bawah kitab suci Alqur’an ? Partini yang raut wajahnya tampak kebingungan langsung bergegas pergi tanpa menjawab sedikitpun.pertanyaan awak media

 Sedang Terdakwa Suryono setelah sidang usai saat dikonfirmasi wartawan ia buru buru masuk mobil meninggalkan kantor pengadilan sambil menyarankan untuk bertanya ke Yudi Bhagaskara, pimpinan PLTU. Terdakwa yang yang biasa hadir naik sepeda motor, kali ini membawa mobil, sambil didampingi 2 orang tetanggannya. **Hasan Yahya

Fri, 23 Jun 2017 @13:25