KASUS DUGAN SELINGKUH HAKIM PN DEMAK TERANCAM DI PECAT

image

Demak.Borgol.com- Komisi Yudisial Semarang, Jawa Tengah, mengancam pemecatan terhadap dugaan perselingkuhan seorang hakim Pengadilan Negeri (PN) Demak, TI (36). TI diduga berselingkuh dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai instruktur senam berinisial WU.

 Koordinator Penghubung Komisi Yudisial Jawa Tengah, Syukron Salam mengatakan, perilaku hakim yang selingkuh termasuk kategori pelanggaran perilaku murni. Maka jika bukti-bukti yang dapat menguatkan dugaan perselingkuhan tersebut sudah ada, proses pemeriksaannya akan lebih cepat.

 "Selingkuh termasuk pelanggaran berat yang dapat dijatuhkan sanksi pemecatan. Untuk itu, kepada semua hakim diharapkan menjunjung tinggi harga diri profesinya, " kata dia di Semarang, Selasa 18 November 2014.

 Terbongkarnya dugaan skandal perselingkuhan sang hakim dengan seorang wanita seksi instruktur senam bermula saat WU diketahui sering melatih senam di PN Demak. Rupanya, hal itu menjadi awal cerita pahit bagi Imam Hambali (46) yang tak lain adalah suami WU. Wanita cantik pujaannya tersebut diketahui justru bermain serong dengan sang hakim yang bertugas di PN Demak.

 Puncaknya, pada Rabu 12 November 2014 lalu, Imam bersama warga melakukan penggerebekan di rumah TI di Komplek Puri Nirwana, Demak, sekira pukul 23.00 WIB. Di rumah TI, Imam pun mendapati bukti TI sedang berduaan dengan WU di sebuah kamar. Kemudian, Senin 17 November 2014, Imam dan sejumlah warga pun menggeruduk kantor PN Demak, menuntut pemecatan TI dari jabatan hakim.

 Terhadap kasus tersebut, Syukron menambahkan, agar Imam Hambali selaku suami WU untuk melaporkan perbuatan TI tersebut ke Kantor Penghubung Komisi Yudisial Jawa Tengah, Jl Pekunden Timur No. 46 Semarang.

 "Harap dilaporkan ke kami dengan menyertakan bukti-bukti adanya dugaan perselingkuhan tersebut. Karena Hakim diduga melanggar point ke-7 SKB MA dan KY tentang Kode Etik Dan Pedoman Perilaku Hakim," ujarnya. 

Ia berharap kasus serupa tidak terulang kembali. Itu agar profesi hakim tetap mulia dan  putusan-putusan yang dikeluarkan memiliki nilai keadilan dan dipercaya oleh masyarakat.

 "Masyarakat sudah memberikan kepercayaan yang cukup tinggi terhadap profesi hakim, hal tersebut merupakan 'social capital' yang tidak dimiliki oleh profesi lain, sehingga harus dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yg mulia," tuturnya. (ron/tj)

 

 

Thu, 20 Nov 2014 @14:23