TRAGIS, SEORANG SOPIR TEWAS DENGAN MENINGGALKAN BEBERAPA KEJANGGALAN

image

Rembang ,Borgol,Com -Sebagai seorang sopir, Slamet Riyadi bukanlah orang yang sepenuhnya jujur, kelakuan nakal Slamet Riyadi sudah umum terjadi  seperti layaknya sopir trailer besar. Di Jakarta, karena menunggu lama dan antrian panjang serta berhari hari muatan barang yang akan dibawanya yakni barang milik PT PRISMA Surabaya, membuat Slamet Riyadi kehabisan uang untuk bertahan di Jakarta, akhirnya Selamet Riyadi pun nekat menjual besi penyangga terpal truk yang dikendarainya Seharga Rp 600.000,00. ke pengepul barang rosok.

Setelah aman mendapat sedikit dana untuk bertahan hidup, Slamet Riyadi pun masih harus menunggu antrian muat barang yang akan dibawanya itu, Namun Slamet Riyadi kehabisan kesabaran dan menghubungi pihak PT Prisma untuk ditransfer uang sebesar Rp 1.000.000,00 dengan berdalih karena kehabisan uang untuk bertahan hidup. Uang Satu juta pun di transfer PT Prisma Ke Rekening Slamet Riyadi. Saking tidak sabarnya karena masih harus menunggu dan menunggu Slamet Riyadi pun memutuskan untuk pulang ke Rumahnya di Japeledok Kec Pancur Kab Rembang.

Setelah istirahat dirumah, Tidak tahu apa yang dipikirkan Slamet Riyadi, Ia memutuskan untuk berpindah PT, Dari yang semula Di PT Prisma berpindah ke PT Rajawali tanpa pemberitahuan. Akhirnya dirinya bekerja menjadi sopir di PT Rajawali sudah dua kali Pulang pergi mengantar barang PT Rajawali. Sukses dan lancar mengantarkan barang PT Rajawali, Dirinya sempet pulang ke Rumahnya.

Namun berbeda kenyataanya, Kamis Sorenya (9/10) Selamet Riyadi dibawa oleh PT Prisma ke Rumah sakit Swasta Anwar Medika Surabaya dengan alasan kecelakaan.Lagi-lagi Frengki menghubungi Istri Slamet Riyadi, namun berkata " Slamet Riyadi melarikan diri dan diluar PT Prisma  kecelakaan ditabrak mobil. Sedangkan Edy anak buah pak Frengky berkata lain, Slamet Riyadi mau kabur dan ditangkap sopir yang berasal dari daerah Ambon, kemudian dimasa sopir Prisma. dan keluarga disuruh Pak Frengky cepat datang ke RS Anwar Medika.

Namun Keluarga beserta rombongan termasuk ada kepala desa Japeledok Tasripin, mendapati kejanggalan, saat dokter Rs Anwar Medika yang memeriksa berkata kepada istri Slamet Riyadi ini bukanlah kecelakaan, namun penyiksaan. "Wajah lebam hitam bekas hantaman tangan, ada bekas disonyok rokok banyak sekali, mata kanan ada darah sudah kering begitu jg mulut, rambut bekas dipotong - potong petak rambutnya, tangan bekas rokok, dan dada, Dalam tubuh tidak ada darah, dalam otaknya kehabisan cairan bekas disetrum listrik, tangan melepuh bekas sonyok rokok. kemudian Istri Slamet Riyadi pun saat itu membenarkan adanya penyiksaan.

RS Anwar Medika tidak sangup mengobati, keluarga Slamet Riyadi memindahkanya ke RS Dr Soetomo Sabtu (11/10) jam 5 Sore, kemudian di inapkan di ruang ICU Dr Soetomo.
Pada saat itupun dokter dari RS Soetomo berkata dan mempertanyakan kepada keluarga akibat apa sampai Slamet Riyadi mengalami kondisi layaknya demikian, Keluargapun menjawab kecelakaan, namun dokter berkata ini bukan kecelakaan tapi penyiksaan, tidak hanya itu hasil visum berkata otak dan darah Slamet Riyadi kering akibat di setrum listrik.

Usaha keluargapun berakhir, pada Sabtu malam / Minggu (12/10) bulan lalu  Slamet Riyadi meninggal dunia.
Bingung dengan keadaan, trauma, tekanan psikis dan mendapati Slamet Riyadi menjadi mayat keluarga bingung dan tidak tahu solusi harus bagaimana dan berbuat apa, karena keluarga datang ke Surabaya tanpa membawa uang.

Pada saat itulah perwakilan dari PT Prisma beserta Aparat yang di bawa PT Prisma memaksa keluarga untuk membuat pernyataan yang intinya keluarga tidak akan menuntut secara hukum dan diberikan uang pesangon. Dengan keadaan yang serba bingung Keluarga Slamet Riyadi diwakili oleh Kepala Desa Japeledok Tasripin membuat surat pernyataan ditulis tangan dan bermaterai. Surat pernyataan itu akhirnya pula terpaksa ditandatangani keluarga Slamet Riyadi, Kepala desa Japeledok dan Perwakilan PT Prisma.
Demikian kejadianya, melihat kejanggalan ini mestinya HAM ditegakkan. Mudah bagi PT mendapat keuntungan Besar, namun jangan sampai main hakim sendiri di Negeri yang katanya punya aturan HUKUM ini. ** (mbah jo)

 

 

 

 

 

Thu, 6 Nov 2014 @01:35