Kasus Tukar Guling di Pedurungan, BKM Kota Semarang Cuci Tangan

BORGOL,SEMARANG
    Semula kasus ini terjadi kesepakatan  Ruislag atau tukar guling antara Sudjatmiko, pemilik tanah di daerah Pasar Waru, dengan pihak BKM Kota Semarang pada tahun 1976, yang memiliki  tanah berlokasi di wilayah Pedurungan. Dalam, kesepakatan itu pihak Sudjamiko sudah memberikan surat-surat tanahnya guna persyaratan pengurusan sertifikat. Namun, ketika pihak BKM yang memilik tanah di Pedurungan diminta surat tanahnya. Berbelit-belit. sampai Sudjatmiko meninggal, pihak BKM Kota Semarang belum menempati janjinya.
    Untuk menuntut keadilan hukum dalam persoalan tanahnya ahli waris Sudjatmiko,(alm) Subandiyah, dan Wahyu Hartono, menyerahkan penyelessaian hukumnya di Kantor Pengacara Hj. Arum SH, MH, &  Associaties.
    Namun prosesnya mengalami jalan buntu. Untuk mengatasi kemacetan ini, pihak kantor pengacara meminta bantuan Abah Sulton, untuk menemui Kemenag Kota Semarang H. Taufik Rahman SH,M.Hum.
    Dalam pertemuan ini, Abah Sulton bersama Aliansi Tajam, pihak Taufik mengatakan agar pihak Abah Sulthon mengajukan surat pengajuan mengenai kebijakan Kemenag Kota Semarang atas persoalan tanah di Buku C Desa Nomer 471 .
    Namun dalam kesepakatan ini, Taufik justru langsung menghubungi pihak pengacara. Bahkan pihak pengacara menyuruh seorang bernama Puji untuk minta tanda tangan kepada Lurah Palebon.
    Namun Lurah Palebon menolak. Dalam kesempatan itu Lurah Palebon mengatakan   pada Puji, kalau ada surat pelepasan dari Taufik, saya siap menandatangani. Tapi kalau suratnya masih seperti ini, mengambang, taruhannya nyawa.
    “Saya tidak  menjadi lurah juga tidak apa-apa. Soalnya saya jadi lurah sudah hampir 17 tahun, ujar Siswanto, lurah Pelebon yang merupakan pindahan dari Mijen ini. Ia juga mengaku tidak tahu, karena tidak pernah bertemu, orang yang namanya Taufik, jelasnya ketika dihubungi lewat Telpon.
    Menurut surat keterangan Nomor 18/2014, tertanggal 1 April 2013, menjelaskan, setelah diadakan penelitian dan pengecekan di Buku C. Nomer 471 persil 29 Klas ! luas 1.650 dan persil 5 klas II luas 0.465 dan luas  keseluruhan 2.115 dan buku C tersebut belum pernah ada pencoretan copi C desa.“Sekarang tanah tersebut masuk kelurahan Palebon Kecamatan Pedurungan Kota Semarang.” Jelasnya.
    Sementara  Kepala BKM Kota Semarang, H. Taufik Rahman SH, MHum. dalam persoalan ini mengatakan, pihaknya selaku Ketua BKM Kota Semarang tidak mengakui kalau tanah C desa 471 dengan luas 2.115 Ha adalah milik BKM, karena faktanya memang milik Sudjatmiko. Pihaknya juga tidak keberatan atau menghalangi-halangi proses permohonan persertifikatan C desa 471 atas nama Sudjatmiko.
    Pihaknya hanya menemukan dokumen berupa fotocopi SHM No.179 dan menemukan sertifikat No. 67 atas nama Drs. HA. Mudatsir (alm), mantan Ketua BKM Kota Semarang. Yang oleh keluarganya telah diserahkan kepada BKM Kota semarang, jelasnya.
    Dalam kesempatan lain, Abah Sulton dan Aliansi Tajam akan meneruskan kasus ini ke Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI, selaku Ketua BKM Pusat.
    Sementara itu dari sumber Aliansi Tajam menyatakan bahwa kasus tukar guling tanah tersebut yang menjadi kuncinya adalah H.Witoyo Tlogosari Semarang dan Drs. H.Farikhin, M.Pd Demak.   
    “ Kami akan ,meminta kejelasan dari persoalan ini sejauh mana kebenarannya. Pasalnya tanah ini bukan diwakafkan, tetapi karena ruislag,” jelas Abah Sulton.
***TIM

Thu, 3 Jul 2014 @05:41