Kendal, koranborgol. com–Menjaga Tradisi Merajut Silaturahmi Semarak Nyadran Mengenal dan Mengenang Leluhur Di Desa Margomulyo Ki Ageng Ridho Kusuma Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal Minggu (15/02/2026).
Semarak Nyadran di Desa Margomulyo Sambut Ramadan 2026 Di ceritakan bahwa tokoh Ki Ageng Ridho Kusumo merupakan salah satu dari ribuan Prajurit Mataram Islam yang berpusat di Yogyakarta yang dipimpin oleh Kanjeng Sinuwun Sultan Agung Hanyokrokusumo. Jadi dimungkinkan Wilayah ini pada zaman tersebut dibawah kesultanan Mataram Islam.
Pada Tahun 1628 Masehi, Kesultanan Mataram Islam berkonflik dengan VOC Belanda, sebagai akibat dari monopoli dagang oleh VOC yang mengancam kedaulatan Kesultanan Mataram Islam dibawah kepemimpinan Sultan Agung yang bertekad menyatukan Kerajaan-kerajaan di pulau Jawa . Sehingga Kesultanan Mataram melakukan perlawanan dan melakukan penyerangan ke Batavia (Jakarta) yang Ketika itu sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan VOC Belanda.
Sultan Agung menunjuk Tumenggung Bahurekso (Bupati Pertama Kendal) sebagai Panglima perang untuk memimpin ribuan prajurit mataram dari berbagai wilayah di pulau Jawa yang salah satunya adalah “Ki Ageng Ridho Kusumo” .
Diceritakan bahwa Serangan Pertama Kesultanan Mataram Islan ke Batavia tersebut Gagal yang disebabkan tidak imbangnya persenjataan dan minimnya logistik para prajurit Mataram. Atas Kegagalan serangan tersebut, Panglima Perang Mataram Islam yaitu Kanjeng Tumenggung Bahurekso Gugur dan Wafat dan dimakamkan di Daerah Batang, Banyak Prajurit Mataram dibawah Pimpinan Tumenggung Bahurekso yang tidak Kembali ke Kesultanan Mataram di Yogyakarta karena apabila prajurit yang kalah perang dan Kembali menghadap Sultan maka akan menerima Pidono (Hukuman).
Salah satu Prajurit yang tidak Kembali ke Kesultanan Mataram Islam karena kalah perang tersebut adalah Ki Ageng Ridho Kusumo. Beliau Bersama prajurit mataram lainnya tinggal dan menetap serta Bubak Alas (Membuka hutan) di wilayah Dusun Manggal (Yang kala itu Bernama Perboan Lor) , Berbaur dengan Masyarakat local, Bertani dan berkebun serta mengajarkan ajaran Agama Islam di wilayah tersebut .
Seiring berjalannya waktu, wilayah bubakan (Alas Perboan Lor) tersebut menjadi perkampungan yang ramai dan terbentuk koloni pemerintahan kecil (Desa) Margomulyo,hingga sampai dengan wafatnya Beliau Ki Ageng Ridho Kusumo (Yai Putih) Bersama Istrinya (Nyai Putih) dimakamkan di Pemakaman Umum Dusun Manggal Desa Margomulyo.
Penulis tidak kuasa memaksakan agar pembaca meyakini sepenuhnya atas tulisan ini, mengingat yang mendasari dari rangkaian cerita ini hanyalah cerita lisan turun temurun (Tanpa bukti autentik baik buku,serat,prasasti ) ataupun bukti pendukung lainnya.
Sembari kami membuka dan mengajak siapapun yang peduli akan Sejarah Ki Ageng Ridho Kusumo yang diyakini sebagai Leluhur Desa Margomulyo ini untuk memberi masukan, informasi dan khasanah untuk lebih sempurnanya Khasanah Literasi tentang Leluhur nenek Moyang Desa Margomulyo ini.Demikian untaian kata dan cerita tentang Ki Ageng Ridho Kusumo ini semoga bermanfaat dan Semoga Allah Swt (Tuhan Yang Maha Alim) memberikan Petunjuk dan Hidayah dan Mengampuni Dosa Kami apabila hal yang kami sampaikan tentang Ki Ageng Ridho Kusumo ini tidak sesuai dengan kenyataan yang sejatinya , Wallaahu A’lam Bis Sowab.
(Isti)
